Sambalado Tanak

Kemarin adik saya menelepon.  Keponakan saya suka sambalado tanak yang saya kirimkan untuk mereka beberapa waktu yang lalu.  Makannya nambah dan besoknya ia ingin makan sambalado tanak lagi. 

“Mau resepnya dong,” ujarnya di ujung telepon.

“Ok, nanti sekalian diunggah di dapurhati ya,” jawab saya bersemangat.  Saat membuat sambalado tanak itu saya memang telah berniat untuk menyimpan resepnya di dapurhati.

Saya baru menyadari ada menu sambal cabai yang dimasak dengan cara berbeda ini di acara pernikahan salah seorang sepupu.  Sebagai tuan rumah, adik ibu saya waktu itu berbisik, “Nanti ada sambalado tanak, enak.  Dikirim dari Singkarak.”

Pada saat makanan telah terhidang, saya pun langsung mencari si sambalado.  Rekomendasi Tante memang benar.  Sambalado itu enak sekali.  Kalau anak zaman sekarang bilang: enak pakai banget. Rasanya baru kali itu saya mencicipi sambalado tanak ini dengan sengaja, dalam arti mengenal namanya dan menikmatinya.  Saya tidak ingat apakah saya pernah mencoba menu khas Minang ini sebelumnya. 

Setelah pesta usai, Tante yang murah senyum dan murah hati ini membekali saya satu bungkus sambalado tanak sebagai oleh-oleh.  Saya menyambutnya dengan hati gembira.

Beberapa tahun sebelum pandemi, saya berlibur ke kebun Ayah.  Beberapa sahabat suami ingin turut menikmati durian yang sedang musim di kebun kami.  Menyambut kedatangan mereka, saya ingin menjamu warga Jakarta ini dengan makanan khas Minang.  Oleh karena itu, saya meminta tolong pada tetangga yang biasa membantu keluarga kami memasak.  Namun ternyata ia sedang sibuk mengurus persiapan pernikahan anaknya.  Wow.. bagaimana ini?  Saya sudah membayangkan akan menyuguhkan rendang dan sambalado tanak, dua makanan khas ranah Minang.  Membuat rendang in syaa Allah saya bisa tapi sambalado tanak? 

Saat mendiskusikan hal ini dengan Ayah, saya baru tahu kalau dulu Nenek sering membuat sambalado tanak dan adik bungsu Ayah dapat membuat sambalado tanak yang mirip dengan buatan Nenek.  Segera saja saya menelepon Tante yang saat itu telah merantau ke kota lain.  Dengan suara riangnya Tante mendiktekan resep beserta cara membuat sambal cabai yang ditanak ini. Allah Maha Baik, satu tante mengenalkan sambalado tanak, tante yang lain mengajarkan cara membuatnya.   Saya sungguh beruntung, Allah membukakan jalan agar saya dapat mewarisi resep sambalado tanak khas Nenek melalui Tante. Semoga pahala senantiasa mengalir pada beliau setiap kali kami memasak sambalado tanak.

Alhamdulillah, sambalado tanak perdana saya sukses.  Menurut Ayah rasanya mirip dengan buatan Tante dan Nenek.  Sahabat-sahabat kami pun menikmatinya. 

Semenjak itu saya mulai membuat sambalado tanak.  Setelah matang, saya biasanya berbagi dengan keluarga besar kami. Termasuk saat mengirimi keponakan saya beberapa waktu yang lalu.  Mendengar gadis kecil itu berkomentar, “Padeh tapi lamak” melalui rekaman video yang dikirim ibunya, hati saya melambung.  Bagi saya makanan ini lebih dari sebuah sambal, banyak cerita dan cinta yang menyertainya.  Semoga sahabat dapurhati juga dapat merasakannya.

Mutiara, 31 Agustus 2021
Dian L Izwar


Resep Sambalado Tanak DapurHati

Bahan:
1 buah kelapa yang tua, ambil santan kentalnya (di resep asli santan encer juga dimasukkan, konsekuensinya waktu memasak jadi lebih lama)
1 ons ikan teri, cuci bersih (jika menggunakan teri asin, kurangi garam)
1 ons petai kupas (ini adalah ciri khas sambalado tanak, saya pernah menggantinya dengan jengkol, enak juga )
1 ons bawang merah, diiris
1 lembar daun kunyit
3 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
2 batang serai, memarkan

Bahan Halus (pastikan semua bahan benar-benar tergiling halus, jangan sampai masih ada biji cabai yang utuh):
250 gram cabe merah keriting
3 siung besar bawang putih
25 gram lengkuas
1 ruas jari jahe (atau seukuran 1 siung bawang putih)
½ ruas jari kunyit
1 sendok teh garam (atau sesuai selera)

Cara membuat:

  1. Tumis irisan bawang merah hingga harum
  2. Masukkan bahan halus dan daun-daun hingga cabai berubah warna
  3. Masukkan petai, aduk sebentar
  4. Masukkan santan. Aduk hingga semua bahan bercampur dengan santan, lalu diamkan.  Tidak perlu mengaduk terlalu sering.  Sambalado tanak khas Nenek memang dibuat agak pecah santan.  Justru di sana khasnya (berbeda dengan sambalado tanak yang pertama saya makan meskipun keduanya sama-sama lezat).
  5. Setelah mendidih, masukkan ikan teri.  Kecilkan api dan aduk sesekali agar tidak lengket di wajan
  6. Apabila sudah mulai keluar minyak, berarti sambalado sudah tanak.
  7. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat.  Selamat menikmati sambalado tanak.

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *