Science Delusion
Topik malam ini adalah science delusion. Istilah ini diambil dari judul buku Rupert Sheldrake yang diterbitkan pada tahun 2012. Dr. Bagus Riyono menjelaskan bahwa konsep ini mengacu kepada sekelompok ilmuwan yang sangat mendewakan sains, bahkan menganggap sains sebagai sebuah agama baru. Mereka menegasikan keberadaan Sang Pencipta dan menganggap agama yang ada sudah kuno. Dalam pandangan kelompok ini, sebuah kebenaran harus dibuktikan secara empiris. Hal-hal yang berada di luar sains dianggap tidak ada.
Disebut sebagai science delusion karena para ilmuwan yang menganut paham ini sangat mengagungkan sains. Sains yang sejatinya adalah sebuah metode untuk mempelajari sesuatu berubah fungsi menjadi sebuah keyakinan yang dipegang dengan sangat kuat. Seolah semua harus sesuai pada “kebenaran” sains, termasuk agama. Padahal kita tahu pengetahuan adalah petunjuk dari Allah kepada manusia dan kemampuan manusia terbatas. Oleh karena itu, tidak semua kebenaran dapat dijelaskan oleh akal manusia. Tentu saja tidak semua ilmuwan memiliki pemahaman seperti itu. Namun kita perlu memahami konsep ini agar tidak terjebak dalam science delusion.
Hal yang sangat menyenangkan dari kuliah malam ini adalah tugas untuk membaca Alquran dan menemukan bagaimana Alquran menjelaskan mengenai manusia. Saya telah lama ingin melakukan hal ini. Membayangkan akan mendapatkan teman diskusi serta bimbingan dalam memahami bagaimana Alquran menjelaskan manusia membuat saya sangat antusias. Bismillah. Semoga Allah mudahkan.
Mutiara, 21 Februari 2022
Dian L Izwar
#Refleksi kuliah sesi keempat “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Ahad, 20 Februari 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog
“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”
QS Al-Baqarah: 42.
